Make your own free website on Tripod.com

Terima kasih, Anda berkunjung di Website kami

Website ini diterbitkan oleh FOSMIK Daar Es Salaam FK Unhas, mudah-mudahan dapat menjadi salah satu andil kami dalam dakwah Islam ini dan dalam menbantu saudara-saudara seiman.

Penyusun : Zulfadli, Fudhail Multazam, Shabir Ahmed

Kritik & Saran : 08152543603 fosmik@ukhuwah.or.id

Copyright fosmikFKUH@2003

MANAJEMEN DIRI SENDIRI

    Menunda aktivitas. Itu adalah salah satu penyakit yang sering tidak disadari. Padahal tiap kali seseorang menunda suatu aktivitas yang telah direncanakan pada waktu yang juga telah direncanakan berarti hanya menumpuk kesulitan bagi dirinya. Kesulitan dan pekerjaan akan semakin menumpuk seiring dengan banyaknya aktivitas yang ditangguh-tangguhkan.

                Misalnya sebagai seorang mahasiswa. Ujian mata kuliah Biologi akan diselenggarakan pada hari kamis yang akan datang. Bahan ujian pun sudah cukup banyak, satu buku. Mungkin kadang-kadang kita mengatakan pada diri kita sendiri :  “Wah, baru hari Senin. Nanti saja hari Selasa belajarnya “. Besoknya kita berkata lagi secara monolog pada batin sendiri : “ Bagusnya besok sajalah, malam Kamis. Supaya pada saat ujian masih hangat. Biologi ‘kan banyak hapalannya ! Begadang juga nggak apa-apa. Wong, sudah biasa kok. Toh waktu ujian Kimia juga nggak jelek-jelek amat. Padahal waktu itu hanya belajar semalam. Biasa, SKS, alias sistem kebut semalam tea ! Produktivitas saya kan tinggi. Hapalanku kan kuat. Malam Kamis pun tiba. Kita sudah bersiap-siap belajar untuk ujian besok. Namun, ternyata, diluar harapan listrik padam semalaman. Subhanallah kita tak dapat belajar. Lilin ternyata tak bisa menggantikan kedudukan listrik. Ujian pun dilakoni dengan tangan kosong, tanpa persiapan apapun. Boleh jadi, Antum memang memiliki kehebatan dalam menghapal dan mengerti pelajaran dengan cepat. Namun manusia itu lemah. Tidak tahu secara pasti apakah pada malam Kamis listrik akan padam. Bila pada hari Senin atau selasa kita sudah punya kesempatan, bahkan belajar pada saat itu sudah merupakan agenda kita, lalu kita menunda-nunda aktivitas tersebut, boleh jadi ceritanya akan berbeda.

                Begitulah setiap perbuatan yang semestinya dilakukan tetapi diulur-ulur waktu pelaksanaannya. Bila kebiasaan ini terus dilakukan berari sebenarnya kita menanam badai kesulitan, sadar atau tidak.

                Terdapat beberapa hal yang biasanya menjadikan sesorang menunda aktivitas yang sebenarnya dapat ia lakukan. Diantaranya adalah :

  1. Thulul Amal

Antum boleh jadi –mudah-mudahan tidak termasuk orang yang sering mengatakan “Ah, nanti saja lagi ah. Nanti malam ‘kan masih ada waktu “. Atau mengungkapkan pernyataan lain dengan mengangankan masih ada waktu. Bila demikian antum termasuk orang yang memiliki sifat panjang angan-angan. Imam Al Ghazali menyebutnya sebagai thulul amal. Dengan sifat demikian yang ada dalam diri Antum, peluang besar kebiasaan menunda aktivitas kebaikan pun melekat. Sebab dengan thulul amal  seseorang merasa bahwa ia akan masih hidup pada waktu yang akan datang. Padahal realitas kematian itu selalu siap menjemput kita. 

Tengok saja kasus 11 September 2001, pemboman gedung WTC di New York. Banyak orang yang meninggal termasuk orang Islam (sekitar 1500 muslim meninggal juga). Perlu diketahui bahwa umat Islam di New York Umat Islam banyak. Sebelumnya kita yakin, bahwa mereka tidak bercita-cita untuk mati bersama reruntuhan gedung WTC. Allah Azza wa Jalla tidak memberitahukan kepada mereka bahwa nyawa mereka akan dicabut pada saat itu. Banyak contoh-contoh nyata yang ada di depan pelupuk mata kita. Banyak juga pemuda yang meninggal, bukan hanya orang tua. Walhasil, panjang angan-angan (merasa akan hidup terus) merupakan penyakit. Bagaimana tidak ‘keyakinan’ demikian itu bertentangan dengan realitas kematian yang senantiasa datang menjelang. Setiap saat.

Berdasarkan hal ini, thulul amal  tersebut mutlak dimusnahkan dalam diri kita. Caranya ? Ingat kematian ! Berkaitan dengan ini Rasulullah pernah bersabda kepada para sahabatnya : “ Jika engkau telah berdiri di dalam sholatmu, maka lakukanlah sholat  sebagai sholat seseorang yang kan meninggal “ (HR. Ahmad). Lakukanlah sholat seakan-akan itu sholat terakhir ! Ternyata kunci yang diberikan  oleh baginda Rasulullah tersebut amatlah jitu untuk menghilangkan thulul amal amal segala hal, bukan hanya dalam sholat kita. Ujungnya, melenyapkan kebiasaan menunda-nunda  aktivitas kita.

Suatu kali bukan mustahil kita shalat tidak khusyu’. Namun hal ini dapat segera dilenyapkan saat itu juga. Teknisnya, sadarlah akan kematian. Tanamkan keyakinan, jangan-jangan saat itu adalah sholat kita yang terakhir. Boleh jadi pada waktu adzan berikutnya berkumandang kita tidak lagi ada di dunia. Amat rugilah bila sholat yang boleh jadi adalah yang terakhir  tidak dilaksanakan dengan khusyu’. Karenanya, kitapun akan terdorong untuk  khusyu’ melaksanakannya.

Bila antum suatu waktu harus menghadiri pengajian rutin, semacam halaqah (mentoring) yang diksanakan pada pagi hari ataupun siang dimana saat itu kita masih ngantuk atau waktunya ttidur siang. Mungkin kita enggan untuk menghadirinya dengan alasan “Masih ngantuk ah… kan masih ada minggu depan. Namun bila pada saat itu Antum berfikir bahwa jangan-jangan ngaji sekarang adalah ngaji yang terakhir bagi saya. Dada antumpun  akan berdetak dan berbicara : “Ya, Allah, boleh jadi pengajian minggu depan aku sudah menghadap-Mu. Dunia ini sudah kutinggalkan” Akhirnya antumpun punya dorongan kuat untuk berangkat dan ngntuk pun bisa hilang. Toh, insya Allah akan ada pahala dan manfaat  yang akan saya peroleh.

Demikian pula, dalam belajar. Ujian nanti hari Kamis. Kita harus berpikir jangan-jangan malam Kamis listrik padam atau ada halangan lainnya. Lagipula kalo’ saya belajar mulai sekarang insya Allah akan lebih mantap pada saat ujian. Nilai saya akan lebih baik. Tidak terancam DO. Orang tua juga pasti senang.

Dengan menggunakan resep ini, Insya Allah dengan pertolongan-Nya, Antum akan dapat melenyapkan thulul amal. Antumpun tidak lagi menunda-nunda aktivitas kebaikan apapun. “Jangan-jangan ini adalah kesempatanku yang terakhir”  Inilah kalimat  yang urgen dipatrikan terus dalam dada dan pikiran kita.

Afwan belum selesai…………… tak ada waktu.

Selamat mengamalkan

[FrontPage Save Results Component]

Bahan Kuliah

Bedah

Anak

Interna

Mata

Obgyn

HIKMAH HARI INI "Allah pasti akan menolong orang yang menolong agama-Nya "

|Home|Link| Kegiatan | Buletin |Bahan Kuliah |LK-USWAH|

|Anak|Interna|Bedah|Obgyn|Mata|BMD|